Hari ini harusnya jadi hari yang membahagiakan untuk Sadira Putri. Remaja berusia 15 tahun ini seharusnya menjalani Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) bertemu teman-teman barunya di sekolah yang baru. Tapi kenyataan berkata lain, Dira, sapaan Sadira, memulai hari sebagai murid kelas X di SMAN 1 Taman Sidoarjo secara daring.

AZ Alim, ayah Dira bercerita bagaimana putrinya menjalani hari baru sekolahnya. “Hari ini pertama sekolah. Dia antusias sekali. Euforianya lebih ke suasana baru, sekolah baru, yang sangat ditunggu adalah mengenal sekolah dan teman-temannya di lingkungan baru. Sejak pagi Dira sudah online Zoom nungguin materi yang disampaikan sekolah,” ungkap Alim kepada julajuli, Senin (13/7/2020).

MPLS dijadwalkan berlangsung selama satu pekan yang disusul dengan kegiatan belajar mengajar secara daring. Selama masa MPLS ini materi yang disampaikan tentang pengenalan sekolah dan pembekalan. “Tadi yang sekilas aku denger sih pengarahan dari kepala sekolah, salah satu poinnya tidak boleh berkata kasar,” kata Alim.

Dijelaskan oleh Alim, keadaan seperti ini, di mana pembelajaran dilaksanakan secara daring, sudah menyentuh Dira sejak duduk di bangku SMP. Mulai dari kegiatan belajar mengajar tanpa tatap muka, ujian nasional yang ditiadakan, wisuda online, Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) online, hingga kelak Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) yang diwacanakan sampai suasana kembali kondusif.

Beruntungnya Dira adalah remaja yang mengakrabi internet. Sehingga Alim tidak perlu mendampingi terus menerus saat belajar mengajar dimulai. “Di sekolah sudah cukup aware pakai laptop. Sudah jamak bermain online sehingga kekhawatiran minim. Bagaimana mengoperasikan aplikasi mereka sudah paham, mana yang harus diinstal mereka paham.”

Berbeda dengan Alim, Rara Prawitasari, orang tua Faza Rasta Fausta, merasa anaknya kurang bergairah di hari pertama sekolah dimulai. Rasta, begitu Faza akrab disapa naik kelas IV di SD Muhammadiyah 3 Surabaya. “Ya gimana ya, dia sudah jenuh di rumah, dia pingin sekolah beneran ketemu teman-temannya. Tiap hari yang ditanyakan ‘Ma, aku sekolah kapan? Ma, sampai kapan aku ketemu teman-temanku?” curhat Rara.

Sejak pagi, Rara sibuk berkutat di grup WhatsApp yang beranggotakan guru dan wali murid kelas IV. Ustadzah alias wali kelas membagikan modul dan materi berisi orientasi serta paparan program kelas. “Agendanya hari ini ta’aruf atau perkenalan via grup WA karena kan kelasnya baru. Kita dimasukkin di grup baru terus di situ dibagi tugas-tugasnya buat seminggu,” ujarnya.

Karena tempat Rara menitipkan anak didiknya adalah sekolah berbasis agama islam, tugas yang diberikan selama ta’aruf berkaitan dengan pembiasaan akidah seperti laporan harian shalat fardu, shalat sunnah, dan muroja’ah juz 30.

Rara berharap wabah ini segera berakhir dan anak-anak bisa sekolah normal lagi. “Soalnya ngaruh ke psikisnya, anak-anak jadi lebih mudah marah. Kalau dulu sekolah ketemu temennya main, ngaji sampai rumah capek tinggal istirahat. Sekarang mungkin karena jenuh gak ada kegiatan, jadi dia bingung juga mau ngapain,” harap Rara.

Pun dengan Rara, Alim berharap agar anak-anak bisa masuk kembali ke sekolah seperti biasa. “Anakku satunya juga sekolah di SMA yang sama. Khawatirnya, kalau seperti ini terus, dua-duanya harus online sedangkan laptop cuma ada satu di rumah. Selama ini pakainya gantian. Kalau ini sampai terus, gimana ya? Apalagi harga laptop juga gak murah,” tuturnya.