Adalah kampung Banyuurip Kidul Gg 2 RW 5 RT 7, Kel. Banyuurip Kec. Sawahan Surabaya. Di pintu masuk kampung, terdapat gapura unik. Sekilas seperti balok kayu dengan tekstur aneh. Tapi bila dicermati, semua bagian gapura itu mengandung sebuah karya seni yang indah. Medium utamanya paralon yang dibentuk sedemikian rupa menghias keseluruhan gapura. Selain menghadirkan tekstur yang unik, permukaannya juga halus sehingga tampak berbeda dari gapura pada umumnya. Sebuah karya yang layak mendapat apresiasi.

Dari pintu gapura, cobalah masuk menyusuri kampung. Sambil mencermati rumah di kiri-kanan, kita akan melihat lampu-lampu di depan rumah warga. Saat sore dan malam hari, lampu-lampu itu akan menyala indah berwarna-warni. Pendar lampu itu semakin tampil eksotis dengan bungkus paralon yang telah dibentuk. Tidak hanya itu. Bila kita sempat bertamu ke rumah warga, bisa jadi kita akan kaget dengan perabotan rumah yang terbuat dari paralon. Mungkin tempat tisu, tempat air gelas kemasan, tempat menyimpan payung, lampu kamar, frame foto, atau mungkin hiasan rumah lainnya.

julajuli.com

Bentuk karya berbahan paralon yang disebut di sini hanya sebagian. Masih ada beragam bentuk karya lainnya yang telah berhasil dibuat. Intinya, bahan paralon bisa dibuat apa saja sesuai yang diinginkan. “Mungkin ada yang ingin digambar wajahnya di paralon sebagai hiasan rumah, juga bisa,” tegas Gatot Subiantoro, penggagas kerajinan paralon.

Apa yang terlihat di gapura atau lampu di depan rumah-rumah warga merupakan karya awal Gatot dan kawan-kawan. Keindahan karya yang ditampilkan masih tergolong sederhana. Sekitar enam bulan lalu itu, Gatot hanya ingin mengaplikasikan ketertarikannya terhadap olah paralon.

Diceritakan, Gatot bekerja di sebuah perusahaan tour travel Galileo. Sama sekali tidak ada kaitannya dengan keahlian disain atau bentuk-membentuk kerajinan. Tapi, diakui, ketertarikan untuk mengisi waktu senggangnya tertuju pada paralon. Tidak bisa melihat bongkahan paralon yang tak terpakai, idenya langsung berputar untuk menjadikannya sebuah karya.

Pengetahuan dan keahliannya diasah secara otodidak. Metode yang didapat dari internet, langsung diaplikasikannya. Paralon-paralon yang berhasil dikumpulkan, diolah menjadi kerajinan-kerajinan unik. Mula-mula dengan memoles gapura, lalu lampu-lampu, dan seterusnya.

julajuli.com

Keahlian seperti yang dimiliki Gatot kini tidak lagi sendiri. Gatot berhasil mengajak kawan-kawan sesama warga untuk turut berkarya. Dalam beberapa bulan saja, masing-masing sudah ahli di bidangnya. Ada yang ahli dalam pembakaran paralon, pembentukan, pengarsiran, hingga pelukisan.

Eksplorasi Gatot bersama kawan-kawan semakin merambah ke beragam bentuk dengan kerumitan yang lebih dan tingkat kualitas yang semakin bagus. Tak heran, setelah melayani warga Bukid sendiri, belakangan sudah membuka pesanan untuk masyarakat umum, perusahaan, dan institusi pemerintahan.

Kerajinan paralon itu pun sudah menghasilkan nilai ekonomi yang lumayan. Untuk Anda yang menginginkan satu set lampu penerangan dengan disain yang  diinginkan, bisa langsung memesan kepada Gatot dan kawan-kawan di Bukid Gg 2 Surabaya. Harganya antara Rp 100 ribu-Rp 300 ribu.

Setelah berhasil mengajak sesama warga seangkatannya, Gatot akan meluaskan kepada para muda karang taruna untuk juga belajar dan menghasilkan karya. “Semakin banyak yang berkeahlian mengolah paralon menjadi berbagai kerajinan, peluang menghasilkan keuntungan akan semakin terbuka lebar. Karena kita yang memulai dan belum ada yang memproduksi kerajinan yang berbahan serupa,” cetusnya.