Sejak empat tahun silam, Kampung Jojoran, Kelurahan Mojo, Kecamatan Gubeng, berbenah. Warga kampung yang berada dekat bantara sungai itu tergerak untuk menjadikan kampungnya bersih, berseri, kreatif, dan sehat. Sejumlah program pun dihadirkan seiring komitmen bersama warga.

Diantara sekian RT yang berada di RW 12, warga RT 10 yang bertekad kuat membangun kampung yang yang diinginkan. Beberapa program coba digarap dengan serius, mulai dari kampung bersih sampah, hijau, asri, indah, kreatif, hingga program peduli kesehatan anak.

Selain penghijauan dan menjaga kebersihan lingkungan, warga kampung juga dituntut membuat kreasi sebagai produk unggulan. Diantara warga itu, terdapatlah Iis Oktiani, tinggal di Jojoran II D/14, yang punya inisiatif membuat keset. Bagi ibu tiga anak ini, setiap rumah pasti membutuhkan keset sehingga produksi kesetnya nanti akan selalu dibutuhkan konsumen. Mula-mula, keset yang dibikin bersama ibu-ibu di kampungnya berbahan dasar goni. Cara garapnya, goni itu dianyam dibentuk sesuai motif yang diinginkan.

“Bukan rumit sebenarnya, tapi memang butuh ketelatenan saat membentuk sesuai gambar,” sergahnya.  Tapi tak dipungkiri, untuk menyelesaikan satu buah keset, kadang membutuhkan waktu minimal 4 hari. Setelah jadi, memang produk yang dihasilkan tidak jelek, sehingga banyak diminati konsumen begitu barang ditawarkan.

julajuli.com

Keset yang dibuat saat itu masih konvensional, berbentuk persegi dengan gambar di tengahnya. Gambar itu ada yang berbentuk kaki, garis, kotak-kotak, bunga, buah dan karakter. Lucu dan unik sehingga banyak disuka konsumen.

Kian hari, jumlah peminat semakin banyak. Ibu-ibu yang membuat keset di kampung ini pun semakin bersemangat karena keset buatannya laku keras. Bahkan Iis mengungkapkan, dirinya sempat bertemu langsung dengan Chairul Tanjung dan meminta produk kesetnya dimasukkan di Carrefour A Yani, kala itu.

Sejak itu, cerita produksi keset Jojoran berubah, mengalami pasang surut. Pasalnya, sejumlah pesanan harus dipasok secara kontinyu, sementara yang bisa diproduksi oleh warga masih terbatas. Alasan yang sempat mengemuka, karena kerumitan cara garap keset goni dengan metode anyaman itu.

Lambat laun, ibu-ibu pembuat keset mengalami kejenuhan. Sejumlah pesanan tidak terpenuhi. Pemesan akhirnya juga mundur teratur. “Akhirnya kami sempat vakum selama lebih kurang setengah tahunan, sebelum saya membangun kembali produksi keset,” ungkapnya.

Alhasil, dari kerja kelompok berganti dan diambil alih oleh Iis sendiri. Keset yang diproduksi juga berubah, dari goni dengan cara dianyam berganti menggunakan kain perca dengan cara dijahit. Bentuknya tidak lagi kotak persegi, tapi sesuai gambar karakter. Hasilnya jauh lebih bagus, dinamis, dan waktu pengerjaannya jauh lebih cepat.

julajuli.com

Mengapa menggunakan perca dan dijahit? Alasannya tidak jauh karena latar belakang usaha yang ditekuninya selama ini. Iis bersama suami, Didik, sudah memiliki usaha konveksi, jauh sebelum berkecimpung aktif dalam kegiatan kampung di Jojoran. Usaha konveksinya di Jl Pacar Kembang Gg 2 no. 106 Surabaya, antara lain memproduksi kaos, sajadah, karpet, dan lain-lain.

Melihat sisa potongan kaos yang menggunung itulah yang melahirkan inisiatif Iis untuk digunakannya sebagai bahan keset. Di sela waktu membuat kaos, ia melibatkan pegawainya, yang kini berjumlah 8 orang, untuk membantunya membuat keset. Dan ditengah produksi, muncullah ide untuk mengambil gambar karakter, seperti dulu diterapkan pada keset goni, sesuai bentuk aslinya.

Gambar karakter itu beraneka bentuk, antara lain, buah semangka, ikan, mobil, angry bird, keropi, nemo, dan beragam bentuk lainnya. “Kita kreasi keset dengan gambar karakter yang disukai anak-anak. Sebab, bila hanya keset seperti pada umumnya sudah kotor orang akan malas memakai. Tapi karena ada gambar karakternya yang lucu, biasanya lebih digemari dan dipakai dalam waktu lama. Sekarang sudah ada 15 karakter yang bisa dipilih dengan merk Tap Tap Door Mats,” cetusnya.

Dan untuk membuat keset karakter dengan gambar yang rumit, seperti angry bird misalnya, bisa diselesaikan dengan cepat. Sehari bisa membuat 3-4 buah bila dirinya sedang waktu luang. Ia mengaku, selalu berproduksi baik ada pesanan atau tidak. Karena, selain untuk memenuhi pesanan konsumen yang suka mendadak, juga untuk pameran dan stock. Seringkali dirinya diundang oleh dinas untuk mengikuti pameran-pameran. Bahkan Tri Rismaharini, Walikota Surabaya, pernah memesan khusus keset buatannya.

Harga keset karakter yang unik dan lucu itu dijual dengan harga antara Rp 35 ribu – Rp 50 ribu. Harga yang layak untuk sebuah produk buatan warga kampung yang bagus, tak kalah dengan produk sejenis lainnya. Iis pun bisa membuat hingga 200 kaset karakter dalam sebulan dan meraih keuntungan antara 40%-50% dari omset Rp 10 juta.