Indonesia masih menggunakan sistem ekonomi linier dalam kesehariannya. Model ekonomi linier adalah mengambil sumber daya alam, mengolah produk, lalu dibuang sebagai atau menjadi sampah. Dengan model tersebut, penduduk Indonesia yang menghasilkan 64 juta ton sampah dengan timbunan mencapai 175 ribu ton sampah setiap harinya akan menjadi sebuah bom waktu. Karena hanya 7,5% saja sampah yang didaur ulang, sementara 69% dari total sampah masih bergantung pada landfill. Sehingga kini sudah waktunya Indonesia mengubah paradigma dari sistem ekonomi linier menjadi circular economy.

Circular economy sendiri menggunakan sumber daya selama mungkin, mengekstrak nilai maksimum selama penggunaan, memulihkan serta meregenerasi produk dan material pada akhir masa gunanya. Tetapi sayangnya belum banyak yang memahami bahwa circular economy ialah isu yang krusial. Berdasarkan hal ini, Waste4Change dan Greeneration Foundation berkolaborasi bersama Kedutaan Besar Denmark dan PRAISE menggelar The 2nd Indonesia Circular Economy Forum 2018 pada 28-30 Juni di Grand City Convex. Acara ini merupakan bagian dari Indo Water Expo 2018 yang bertema Redefining Waste Management : from Trash to Resources Management.

“Acara kali ini mengangkat tiga topik utama, yakni visi Indonesia dalam pengelolaan persampahan yang mengarah pada circular economy, penanggulangan sampah plastik dan marine debris di Indonesia serta aplikasi teknis yang sudah dilakukan Indonesia dalam mencapai circular economy. Kami berharap selain pemerintahan, pihak swasta dan masyarakat luas bisa turut berperan serta dalam menanggulangi isu tentang sampah,” ujar Faiza Fauziah, Head of Stakeholder Management at Waste4Change.