Kampung bordir di Surabaya dibentuk sejak 2010. Kampung itu berlokasi di Jl. Kedung Baruk, Kelurahan Kedung Baruk, Kecamatan Rungkut Surabaya. Kala itu, Pemerintah Kota Surabaya tengah gencar mengembangkan kampung-kampung mandiri. Nyaris bersamaan, terbentuknya kampung bordir ini merupakan satu dari 10 kampung unggulan binaan Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Surabaya yang dibentuk di berbagai wilayah di kota ini.

Jauh sebelumnya, warga kampung Kedung Baruk memang sebagian sudah menggeluti usaha jahit. Dan satu diantaranya memiliki keterampilan jahit bordir. Adalah Lilik Zulfiyah (36), yang menguasai keahlian jahit bordir, sejak 2002. Alhasil, Lilik pun didapuk menjadi ketua yang bertugas menggerakkan warga kampung lainnya untuk menggeluti dan mengembangkan seni jahit bordir.

Jahit bordir, diakui Lilik, mampu menambah nilai sebuah produk baju, mukenah, dan beragam jahit lainnya. Sebagai mata pencaharian, nilai tambah seperti ini tentu saja menarik bagi para penjahit. Tak heran bila dari empat penjahit yang awal tergabung di kampung bordir, kemudian berkembang menjadi 15 orang hingga 2015 lalu.

Apalagi saat-saat awal itu, ada program pembinaan dan bantuan bergulir dari Pemkot Surabaya. Perajin mendapat bantuan mesin bordir, pelatihan-pelatihan, dan studi banding ke kota-kota pusat bordir hingga Tasikmalaya. Program lima tahun itu cukup berhasil dengan tergeraknya warga kampung yang mau menekuni usaha jahit bordir.

julajuli.com

Dari sisi ekonomi, diakuinya, ada tambahan pendapatan setelah dijadikan kampung bordir. Sebagai gambaran, sebelumnya Lilik mampu meraih penghasilan tidak sampai Rp 2 juta.

“Saya bersyukur karena ada cukup tambahan penghasilan. Lebih kurang ya sekitar Rp 1 juta. Dan pertambahan penghasilan juga dirasakan penjahit di kampung ini,” ungkap isteri Ismulyono ini.

Lilik dan perajin bordir lainnya kemudian mengembangkan jahit bordir ke banyak media lainnya. Selain kebaya dan busana, sentuhan bordir juga diterapkan sebagai hiasan pada mukenah, jilbab, taplak meja, tempat tisu, dan masih banyak lagi lainnya.

Lilik sendiri mengambil spesialisasi membuat mukena berhias bordir. Pesanan mukena pun berlimpah jika Ramadhan tiba, mencapai 20 pcs dengan harga antara Rp 150 ribu – Rp 250 ribu.

Sebagai penggerak, Lilik hampir secara periodik mengikuti pertemuan dengan perajin bordir lain dari berbagai kota di Jawa Timur yang tergabung dalam Asosiasi Perajin Bordir. Dalam tiap kali pertemuan, ia banyak mendengar beragam keluhan, terutama soal semakin menyusutnya perajin yang menekuni bidang usaha ini.

julajuli.com

Ia menghela nafas, sadar betapa kondisi yang sama juga menimpa Kampung Bordir Kedung Baruk Surabaya. Cerita indah tadi, setidaknya hanya mampu bertahan selama lima tahun (2010-2015). Setelah itu, perajin bordir mundur teratur. Kini, hanya menyisakan 6 perajin yang masih tegar bertahan. Sejumlah perajin itu pun masih akan ditakar lagi oleh waktu, apakah mereka masih sanggup menekuni bidang jahit bordir, atau malah banting setir ke bidang usaha lain seperti jajanan atau produk kuliner yang lain.

Apakah ini cerita sedih? Tidak. Lilik tetap berusaha membuka diri. Siapa pun yang ingin belajar sampai mahir dan menekuninya sebagai mata pencaharian, dirinya siap membagi ilmu, keterampilan, dan alatnya untuk digunakan. Ia juga sudah menyodorkan promosal kerjasama ke pihak kecamatan, bilamana ada perkumpulan ibu-ibu PKK yang juga tertarik untuk berkiprah di dunia jahit-menjahit bordir. Hal itu dilakukan karena panggilan hatinya untuk bisa berbagi ilmu dan keterampilan kepada warga lainnya.

Harapannya, 6 perajin yang masih eksis (2 perajin di Kedung Baruk, 4 lainnya di Penjaringansari) tidak makin merosot, tapi kian bertambah dengan adanya perajin-perajin baru yang tertarik. Ia rela kampung bordir tidak hanya di Kedung Baruk, tapi ada di seluruh wilayah di Kec. Rungkut Surabaya.